Jumat, 06 Maret 2015

Hubungan antara manusia dengan pendidikan diawali dari pertanyaan : apakah manusia dapat didik? Ataukah manusia berkembang sendiri menjadi dewasa tanpa perlu dididik?
Kedua pertanyaan itu sejak lama telah menjadi bahan kajian para ahli didik barat, yaitu sejak zaman yunani kuno. Pendapat yang umumnya dikenal dalam pendidikan barat mengenai mungkin tidaknya manusia dididik terangkum dalam tiga aliran filsafat pendidikan. Aliran-aliran tersebut diantaranya: nativisme, empirisme, dan konvergensi.
Menurut nativisme, manusia tidak perlu dididik, sebab manusia sepenuhnya ditentukan oleh bakat pada dirinya. Sedangkan menurut penganut empirisme adalah perkembangan dan pertumbuhan manusia sepenuhnya ditentukan oleh lingkungannya. Dengan demikian aliran ini memandang pendidikan berperan penting dan sangat menentukan arah perkembangan manusia.
Adapun aliran ketiga, yaitu konvergensi merupakan perpaduan antara kedua pendapat tersebut. Menurut mereka memang manusia memiliki kemampuan dalam dirinya (bakat/potensi), tetapi potensi itu hanya akan berkembang jika ada pengarahan pembinaan serta bimbingan dari luar (lingkungan).
Manusia memang hampir tak mungkin berkembang secara maksimal tanpa intervensi pihak luar, dan oleh sebab itu manusia memerlukan pendidikan.
Adapun filsafat pendidikan islam meletakkan hubungan manusia dengan pendidikan atas dasar prinsip penciptaan, peran, dan tangguung jawab manusia.[1]
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai penerima dan pelaksana ajaran. Oleh karena itu ditempatkan pada kedudukan yang mulia. Sesuai kedudukannya yang mulia itu, Allah menciptakan manusia itu dalam bentuk fisik yang bagus dan seimbang. Dan Allah melengkapinya dengan akal dan perasaan yang memungkinkannya menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membudayakan ilmu yang dimilikinya.[2]
Pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh manusia melalui pengalaman, informasi, perasaan atau melalui intuisi. Ilmu pengetahuan merupakan hasil pengolahan akal(berfkir) dan perasaan tentang sesuatu yang diketahui itu.
Sebagai makhluk yang berakal, manusia mengamati sesuatu, hasil pengamatan itu diolah sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan itu dirumuskan ilmu baru yang akan digunakan dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjangkau jauh diluar yang membuat manusia dapat hidup menguasai alam ini. Untuk itulah maka islam memerintahkan pemeluknya untuk belajar.[3]
Makhluk pedagogik adalah makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Makhluk itu adalah manusia. Dialah yang memiliki potensi dapat dididik dan mendidik sehingga mampu menjadi pendukung dan pengembang kebudayaan. Dia dilengkapi dengan fitrah Allah, berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. Pikiran, perasaan dan kemampuanya berbuat merupakan komponen dari fitrah itu. Itulah fitrah Allah yang dilengkapi penciptaan manusia.[4] Firman Allah:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(QS. Ar-Rum: 30)
Fitrah Allah Adalah ciptaan Allah. Manusia dicptakan Allah memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid. Fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir yang didalamnya terkandung tiga potensi dengan fungsi masing-masing. Pertama, potensi akal yang berfungsi untuk mengenal tuhan, mengesakan Allah dan, mencintainya. Kedua, potensi syahwat yang berfungsi untuk menginduksi objek-objek yang menyenangkan. Ketiga potensi gadhab yang berfungsi menghindari segala yang membahayakan.[5]
Ayat diatas menghubungkan makna fitrah dan agama Allah(din). Hubungan fitrah dengan din tidak bertentangan malah sebaliknya yang melengkapi keduanya.
Penekanan mengenai hakekat makna fitrah yang sesungguhnya secara lebih terperinci lagi berasal dari ayat dibawah ini yang menandai bahwa Allah telah membuat perjanjian kesaksian (amanat) dengan manusia agar berlaku adil dan baik hati. Dalam QS. Al-A’raf (17). Allah berfirman:
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ  
Artinya: dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Ayat di atas membuktikan, bahwa Allah menjanjikan kepada manusia agar mengakui Allah ini illahnya dan sesembahannya. Namun kapan dan bagaimana perjanjian itu dibuat?
Suatu tafsiran mengatakan, bahwa Allah mengeluarkan keturunan anak adam dari sulbi bapak-bapak mereka. Sedang tafsir lain menunjukkan, yang dimaksud anak cucu adam adalah dari adam itu sendiri. Tafsiran pertama melukisakan ayat sama untuk mendukung pandangannya, yakni ayat yang mengatakan “dari sulbi mereka” bukan dari sulbinya. Secara implisit mengatakan termasuk juga selain adam. Tafsir kedua menjelaskan adanya hadist-hadist Nabi SAW yang menunjukkan adam sendirilah yang mewakili peristiwa kejadian satu-satunnya dari asal-usul keturunan adam yang digambarkan berkesinambungan.[6]
Firman Allah yang berbentuk potensi itu tidak akan mengalami perubahan dengan pengertian bahwa manusia terus dapat berfikir. Merasa dan bertindak dan dapat terus berkembang. Fitrah inilah yang membedakan antara manusia dengan  makhluk Allah  lainnya dan fitrah ini pulalah yang membuat manusia itu istimewa dan lebih mulia yang sekaligus berarti bahwa manusia adalah makhluk pedagogik.[7]
Allah telah menciptakan semua makhluk-Nya ini berdasarkan fitrah-Nya. Tetapi fitrah Allah untuk manusia yang disini diterjemahkan dengan potensi dapat dididik dan mendidik, memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuanya dapat melampaui jauh dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang.
Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan. Teori Nativis dan empiris yang dipertemukan oleh Kerschenteiner dengan teori Konvergensinya, telah ikut membuktikan bahwa manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan pendidikan dan pengajaran potensi itu dapat dikembangkan manusia, meskipun dilahirkan seperti kertas putih, bersih belum berisi apa-apa dan meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang sendiri, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak melalui proses tertentu, yaitu proses pendidikan. Kewajiban mengembangkan potensi itu merupakan beban dan tanggung jawab manusia kepada Allah. Kemungkinan pengembangan potensi itu mempunyai arti bahwa manusia mungkin dididik, sekaligus mungkin pula bahwa pada suatu saat nanti ia akan mendidik. Kenyataan dalam sejarah memberikan bukti bahwa memang manusia secara potensial adalah makhluk yang pantas dibebani kewajiban dan tanggung jawab, menerima dan melaksanakan ajaran Allah. Ajaran yang dibebankan kepada manusia untuk melaksanakannya. Setiap umat islam dituntut supayaberiman dan beramal sesuai dengan petunjuk yang digariskan ileh Allah dan Rasul-Nya. Tetapi petunjuk itu tidak datang begitu saja kepada setiap orang, seperti kepada Nabi dan Rasul, melainkan harus melalui usaha dan kegiatan. Karena itu, usaha dan kegiatan membina pribadi agar beriman dan beramal adalah suatu kewajiban mutlak. Usaha dan kegiatan itu disebut pendidikan dalam arti yang umum. Dengan kalimat lain dapat diartikan bahwa pendidikan adalah usaha dan kegiatan pembinaan pribadi. Adapun materi, tujuan dan prinsip serta cara pelaksanaannya dapat dipahami dalam petunjuk Allah yang disampaikan oleh para Rasul-Nya.[8]
 Dalam ajaran Islam bertakwa itu wajib, tetapi tidak mungkin bertakakwa itu tercapai kecuali dengan pendidikan, maka pendidikan itu juga wajib. Dan manusia adalah makhluk pedagogik, maka kewajiban menyelenggarakan pendidikan Adalah kewajiban syar’i yang berarti pula bahwa perintah bertakwa adalah sekaligus perintah menyelenggarakan pendidikan yang maju kepada pembinaan manusia bertakwa.[9]
Jelas bahwa fitrah tersebut mengandung potensi dasar untuk beragama lurus yaitu agama Allah. Fitrah tersebut tidak dapat diartikan sebagai jiwa yang suci bersih yang kosong dan kemampuan potensial untuk dikembangkan, pengertian dari firman Allah tersebut berbeda dengan teori tabulae rasae (meja lilin atau kertas putih.
Begitu pula sabda Muhammad Rasulullah SAW. Berikut ini mengandung pengertian yang sama dengan kandungan ayat di atas; oleh karena manusia memiliki fitrah manusia beragama itulah, maka ia dapat didik untuk beragama yahudi, nasrani, atau majusi.
Benih kejiwaan yang bersifat umum yang terkandung dalam makna fitrah itulah yang menjadi dorongan internal berproses secara interaktif dorongan pengaruh pendidikan yang dilakukan oleh pendidikan yaitu orang tuanya sendiri sebagai pendidik pertama.
Kemampuan belajar dan mengajar (didik dan mendidik) manusia termasuk komponen fitrah juga. Ayat-ayat yang diturunkan Allah pertama-tama memerintahkan nabi Muhammad SAW. Dari umatnya untuk belajar membaca dan menulis dengan kalam sebagai berikut:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ    
Artinya: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Firman Allah yang lain menunjukkan bahwa manusia untuk belajar memperoleh ilmu pengetahuan, diberi kelengkapan organ-organ tubuh seperti telinga, mata, dan hati guna menangkap pengertian-pengertian dan obyek yang dipelajari.
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ    
Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Di samping kemampuan untuk mengembangkan diri melalui proses belajar, manusia juga sebagai makhluk yang diwajibkan untuk mengajar atau mendidik orang lain karena memang ia telah diberi fitrah sebagai pendidik atau pengajar.[10]
Cara yang tepat untuk mengembangkan dan memelihara fitrah manusia ini adalah melalui pendidikan, karena pendidikan mencakub berbagai dimensi: akal, perasaan, kehendak dan seluruh unsur kejiwaan manusia serta bakat-bakat dan kemampuannya. Pendidikan berupaya mengembangkan bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi-potensi kejiwaan itu dapat diakutualisasikan secara sempurna, karena potensi-potensi itu sesungguhnya merupakan kekayaan dalam diri manusia.
Jika dilihat dari segi kemampuan dasar paedagogis, manusia dipandang sebagai homo edukandum yaitu makhluk yang harus dididik, oleh karena itu, manusia dikategorikan sebagai animal educable, yaitu makhluk sebangsa hewan yang dapat dididik. Manusia dapat dididik karena memiliki akal, mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan (homo sapiens), disamping manusia memiliki kemampuan untuk berkembang dan membentuk dirinya sendiri.[11]
Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ketahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.[12]
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa manusia itu terdiri atas dua aspek yang esensial, yaitu tubuh dan jiwa.[13] Dahulu manusia dianggap sebagai seekor hewan ditambah sesuatu yang ekstra (roh, akal budi). Manusia manusia didefinisikan animal rationale (Aristoteles), seekor hewan yang dilengkapi dengan akal budi. Gambaran itu kini sangat berubah. Disatu pihak manusia lebih dekat pada hewan-hewan, dengan satu cara yang diliputi kabut rahasia ia muncul dari alam hewani dengan meninggalkan sifat-sifat seekor hewan. Di lain sudut, selaku makhluk hidup sebagai sebuah organisme jasmaniah, ia berbeda dengan hewan-hewan.[14]
Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menggunakan empat istilah dalam membahas tentang esensi manusia yaitu: Qalb, Ruh, Nafs, dan Aql. Pengertian masing-masing istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Hati (Qalb) ialah yang halus, ketuhanan dan bersifat kerohanian, ia dengan hati yang bertubuh ada hubungannya. Yang halus itu hakekat manusia.
2.      Ruh adalah yang halus, yang mengetahui, dan yang merasa dari manusia.
3.      Jiwa (Nafs) yaitu yang halus, yang telah kami sebutkan yakni hakikat manusia, diri dan zatnya.
4.      Akal (Aql) kadang ditunjukkan dan dimaksudkan yang memperoleh pengetahuan, dan itu adalah hati yakni yang halus.... kadang ditunjukkan dan dimaksudakan tempat pengetahuan yang mengetahui.
Penggunaan keempat istilah diatas menunjukkan bahwa kajian Al-Ghazali terhadap esensi manusia sangat mendalam, menyertai sepanjang perkembangan pemikirannya.[15]
Proses tejadinya manusia sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hijr: 28-29.
øŒÎ)ur tA$s%ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr (#qãès)sù ¼çms9 tûïÏÉf»y ÇËÒÈ    y7/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) 7,Î=»yz #\t±o0 `ÏiB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*yJym 5bqãZó¡¨B ÇËÑÈ   #sŒÎ*sù ¼çmçF÷ƒ§qy àM÷xÿtRur
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.[16]
Dapat dipahami bahwa pandangan Al-ghazali mengenai terciptanya manusia, ia terbentuk dari dua unsur yang sifatnya berbeda yakni: bentuk luar yang di sebut jasad dan bentuk dalam yang disebut hati atau ruh.[17]
Ada beberapa ansumsi yang memungkinkan manusia itu perlu mendapatkan pendidikan:
1.      Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya. Manusia begitu lahir ke dunia, perlu mendapat uluran orang lain untuk dapat melangsungkan kehidupannya
2.      Manusia lahir tidak langsung dewasa. Untuk sampai kepada dewasa yang menjadi tujuan pendidikan dalam arti khusus memerlukan waktu yang relatif panjang.
3.      Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Ia tidak akan menjadi manusia, seandainya tidak hidup bersama dengan manusia lagi.[18]



[1] Jalaludin, teologi pendidikan , RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003, Hlm. 46-47.
[2] Nur Uhbiyati, Ilmu pendidikan Islam, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2013, Hlm. 1-2
[3] Ibid.,Hlm. 3.
[4] Zakkiah daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta. 2008, Hlm. 16
[5] Hasan bisri,dkk., filsafat pendidikan islam, pustaka setia, Bandung, 2009, Hlm. 31.
[6] Abdurrahman saleh Abdullah, teori-teori pendidikan berdasarkan Al-qur’an, Rineka Cipta, Jakarta, 1994. Hal. 56-57.
[7] Zakkiah daradjat, op.cit, Hlm. 16.
[8] Ibid., hlm. 17.
[9] Ibid., hlm. 18.
[10] Nur Uhbiyati, op.cit. Hlm. 10-12
[11] Ahmad syar’i, filsafat pendidikan islam, pustaka firdaus, Jakarta, 2005, Hlm. 15.
[12] Samsul Nizar, Fisafat pendidikan Islam, Ciputat pers, Jakarta, 2002, Hlm. 32
[13] Surajiyo, Ilmu filsafat, Bumi aksara, Jakarta, 2005, Hlm.128.
[14] Ibid., Hlm. 129.
[15] Abidin Ibnu Rusn. Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 1998. Hlm. 31.
[16] Ibid., Hlm. 33
[17] Ibid., hlm, 34
[18] Burhanuddin salam, pengantar pedagogik, Rineka cipta, jakarta, 1997, Hlm. 9.

0 komentar: